KETIKA AMAL DIHADAPKAN KEPADA ALLAH, JANGAN BIARKAN PERMUSUHAN MENGHALANGI AMPUNAN
Oleh: Tgk Abdullah bin Rusli
Dalam kehidupan sehari-hari, pertengkaran dan perbedaan pendapat sesama manusia terkadang tidak dapat dihindari. Namun, seorang Muslim inginnya tidak membiarkan perbedaan berubah menjadi permusuhan yang berkepanjangan.
Sebab, ada suatu hal yang sangat penting untuk kita renungkan: amal manusia berhadapan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetapi permusuhan di antara sesama manusia dapat menjadi penghalang datangnya pengampunan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan manusia terjadi pada setiap pekannya dua kali, yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni, kecuali hamba yang mempunyai permusuhan dengan saudaranya. Lalu dikatakan, 'Tinggalkanlah keduanya sampai keduanya berdamai.'”
(HR. Muslim)
Hadits ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Allah membuka pintu pengampunan bagi hamba-hamba-Nya, tetapi permusuhan yang terus dipelihara menjadi perkara yang harus segera diselesaikan.
JANGAN MEMELIHARA DENDAM
Islam tidak mengajarkan manusia untuk hidup dalam kebencian. Bahkan ketika terjadi kelainan, seorang Muslim diperintahkan untuk berusaha memperbaiki hubungan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini menegaskan bahwa persaudaraan sesama orang beriman bukan sekadar hubungan sosial, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
Oleh karena itu, ketika terjadi konflik, jangan sampai ego membuat seseorang merasa terlalu tinggi untuk meminta maaf. Jangan pula gengsi membuat seseorang enggan memberikan maaf.
MEMAAFKAN BUKAN BERARTI KALAH
Dalam pandangan manusia, meminta maaf terkadang dianggap sebagai tanda kelemahan. Padahal dalam Islam, memaafkan merupakan akhlak mulia.
Allah berfirman:
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dari Allah.”
(QS. Asy-Syura: 40)
Betapa indahnya janji Allah: orang yang mampu menahan diri dan memilih memaafkan tidak kehilangan apa-apa. Justru Allah menjanjikan pahala kepadanya.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta.Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maaf kecuali kemuliaan.”
(HR. Muslim)
Maka, jangan takut kehilangan harga diri karena memaafkan. Kemuliaan seorang muslim tidak diukur dari seberapa lama ia mampu menyimpan dendam, namun dari seberapa besar ia mampu menundukkan hawa nafsu demi mencari ridha Allah.
JANGAN SAMPAI DUNIA MEMISAHKAN SAUDARA
Harta, jabatan, perbedaan pilihan, masalah keluarga, urusan pekerjaan, bahkan masalah kecil terkadang menjadi sebab dua orang yang dahulu dekat kemudian saling menjauh.
Padahal hidup manusia sangatlah singkat.
Hari ini kita masih bisa berbicara dengan seseorang. Besok belum tentu kita masih memiliki kesempatan untuk bertemu. Oleh karena itu, jangan menunggu kehilangan baru kemudian menyesal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak halal bagi seorang Muslim yang mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya bertemu, lalu yang ini diubah dan yang itu juga diubah. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengajarkan keberanian untuk mengambil langkah pertama menuju perdamaian.
Tidak perlu menunggu siapa yang salah dan siapa yang benar untuk memulai kebaikan. Jika kita mampu menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan, mengucapkan salam, meminta maaf atau memberikan maaf, maka lakukanlah.
PERDAMAIAN ADALAH JALAN MENUJU RAHMAT ALLAH
Sebenarnya manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Kita bisa salah dalam kata, salah memahami orang lain, bahkan mungkin tanpa sadar menyakiti hati saudara kita.
Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan.
Jika ada saudara yang sedang kita jauhi, cobalah menyapa.
Jika ada hati yang terluka karena perkataan kita, mohon maaf.
Jika ada orang yang pernah menyakiti kita, belajarlah untuk memaafkan.
Dan jika suatu masalah dapat diselesaikan dengan musyawarah dan perdamaian, jangan biarkan setan membuat kita memilih permusuhan.
Sebab kita tidak tahu kapan amal kita akan berhadapan dengan Allah dan kapan hidup kita akan berakhir.
Jangan sampai ketika pintu ampunan Allah terbuka, nama kita justru termasuk orang-orang yang tertahan karena masih menyimpan permusuhan kepada sesama.
Mari kita berdamai sebelum terlambat.
Mari kita bersihkan hati sebelum menghadap Allah.
Mari kita saling memaafkan, karena sesungguhnya kita semua adalah hamba yang membutuhkan pengampunan-Nya.
Semoga Allah melembutkan hati kita, menghilangkan kebencian dan dendam dari dada kita, memperbaiki hubungan di antara kaum Muslimin, serta mengampuni dosa-dosa kita semua. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Related Articles